Sewu Dino Bagian 17

Horror —Senin, 1 Aug 2022 13:09
    Bagikan  
Sewu Dino Bagian 17
Ilustrasi.* (FOTO: Pinterest)

DEPOST,- Yang Sri yakini sebuah pesan, “Sewu Dinone cah iki, kari ngitung areng (seribu harinya anak ini hanya tinggal menunggu bara api padam/kiasan hitungan jawa: waktu).”

Erna yang mendengar itu lantas langsung sadar dengan lamunannya, “He, golek cah iku, bengi ndedet ngene, gendeng koen (apa, cari anak itu, malam petang seperti ini, gila ya kamu).”

Sri yang mendengar itu, mendekati Erna, “Awakmu gak paham ta posisine, yo opo nek wong tuwek iku eroh (kamu itu masih belum paham posisi kita ya, gimana kala orang itu tahu).” Sebelum Erna menjawab pertanyaan itu, ia membanting boneka itu, kemudian bertanya dengan nada keras. “TEROS IKI OPO, SOPO SING NDUWE BARANG NGENE, AWAKMU KAN (LALI INI PUNYA SIAPA, SIAPA YANG PUNYA, INI PUNYAMU KAN).”

Sri terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Erna.  Ia tidak tahu menahu, dan bilang memang karena benda itu semua ini terjadi, artinya, memang dialah penyebab semua ini.  Sri berucap, “Jogo Dini, biar tak cari cah iku (tolong jaga Dini, biar aku yang cari anak itu).“

Sri mengambl satu lampu petromax, ia merasakan hembusan angin dingin yang langsung menusuk tulang. Berbekal lampu petromax di tangan, Sri berlari entah kemana, mengikuti jalan setapak, berharap ia masih bisa mengejar Dela yang bisa dimana saja.  Ia tidak tahu seluk beluk hutan ini.

Sejauh mata memandang, hanya bayangan pohon, dan kabut tebal yang Sri seringkali temui. Sisanya, hanya ada suara gemerisik kakinya menembus semak belukar yang terkadang menggores kulitnya. Selain itu, hembusan nafas Sri lebih berat, karena ketakutan sudah menemani sejak ia keluar.

Baca juga: Dewan Pers-Menko Polhukam Bahas RKUHP, SMSI Terus Tolak Pasal Krusial yang Potensial Lemahkan Kebebasan Pers

Sudah tidak terhitung, berapa banyak ia melintasi pohon besar. Mata Sri awas melihat sekelliling, sementara tangan dan kakinya meraba apapun yang bisa ia pegang.  Hanya agar tidak terjerembab tanah yang tidak rata. Namun, Sri masih belum menemukan tanda keberadaan Dela. ‘

Bagai mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Mencari Dela di tengah kegeapan hutan seperti ini. Berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya, mustahil ia bisa menyisir keseluruhan hutan ke tempat lain. Mustahil ia bisa menyisir keluruhan hutan. Hingga Sri merasa ia tahu dimana keberadaan gadis itu.

Semoga saja benar, Sri melihat ke tempat itu dari jauh. Bayangan hitam besar, rimbun, seakan tidak kehilangan kengeriannya sedikitpun. Meskipun Sri letih menempuh jarak sejauh itu. Ia mendekati pohon itu, tepat dimana ia menemukan boneka.

Terdengan suara langkah kaki Sri yang menembus semak. Kini ia berdiri tepat di bawah pohon itu, melihat Dela seperti sudah menunggunya. Dela hanya duduk, menggoyangkan kakinya, seakan tahu Sri akan menemukannya. Gerak tubuh Dela membuat Sri tidak nyaman.  Terkadang ia menggedek kepalanya, seakan tulang lehernya tidak meyangga isi kepalanya.

“Wong tuwek iku, rupane gak goblok yo (orang tua itu, tidak bodoh ya),” kata Dela.* (Bersumber dari Twitter @simplem81378523 / PARISAINI R ZIDANIA)

Baca juga: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Mengikuti Prosesi Kirab Pusaka Dalem 1 Sura EHE 1956

 

 

Editor: Widya
    Bagikan  

Berita Terkait