Sewu Dino Bagian 22

Horror —Selasa, 9 Aug 2022 15:44
    Bagikan  
Sewu Dino Bagian 22
Ilustrasi.* (FOTO: Pinterest)

DEPOST,- (sebenarnya, keluarga yang mengirim santet ini, masih mencari dimana keberadaan Dela. Itulah alasan kenapa saat menyembunyikannya disana, karena tempat itu terlalu ramai untuk mencari keberadaan Dela. Karena, Dela tidak akan bisa meninggal bila sang Banarogo belum bertemu dengan sengartutih, Dela belum bisa mati, secara otomatis, santet ini belum akan menghabisi keluarga Atmojo).

“Sinten sengartutih niku? (siapa sengartutih itu?).”

“Sing sak iki, tangi, nek Dela gak di cancan tali ireng iku (yang sekarang bisa bangun sewaktu-waktu, bila Dela tidak di ikat tali hitam itu). “Jadi?” Tanya Sri.

“Kari ngenteni waktu, kanggo tekane Banarogo, nggoleki bojone Sengartutih sing onok nang awake Dela (Tinggal menunggu waktu, datangnya Banarogo untuk mencari isterinya- Sengartutih yang ada di tubuh Dela saat ini, bila dia sudah menemukannya, keluarga Atmojo, sudah tamat!!).”

Bagi Sri, apa yang baru saja diucapkan oleh mbah Tamin persis seperti dongeng anak kecil yang serba ingin tahu sebuah kenyataan dari dunia yang tidak dapat ia lihat, rasa seperti kenapa ada hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini. namun, persepsi itu harus dipertimbangkan lagi.

Terutama, saat Sri melihat wajah Dini, ia menampilkan ekspresi yang ketakutan yang tidak pernah ia saksikan sebelumnya, ibu dari 2 anak. Satu-satunya yang Sri tuakan, meski usia mereka hanya berbeda 2 tahun, Dini memiih menikah muda. Dan hal itulah yang membawanya ke tempat ini.

Baca juga: Ridwan Kamil Resmikan Situ Rawa Kalong Hasil Revitalisasi

Ke tempat dimana ia harus meniggalkan dua anaknya dan membantu sang suami untuk menutup kehidupan dari buah kecil cinta mereka. Dini, lebih memilih dia sambil menutup luka di daun telinganya yang harus ia relakan di bibir Dela atau mungkin Senggartutih.

Setelah penjelasan mbah Tamin yang dirasa Sri bahwa ada beberapa hal kecil bagian yang seakan tidak diceritakan. Membuat Sri merasa orang tua ini memiliki tujuan sendiri, tidak dapat ditebak, tidak dapat diterka. Namun, sorot matanya seakan memberitahu ada sesuatu yang ia tutupi.

“Wes mari to ndok penjelasan nek wes dirasa mari, ibuk pamit, engkok ben sugik sing mgeterno awakmu karo, nang Dela (sudah selesaikan penjelasannya nak, kalau sidah, ibu mau pamit, nanti biar Sugik yang mengantar kamu ketempat dimana Dela berada).”

Mbah Krasa akhirnya pergi, Mbah Tamin juga turut undur diri. Ia membatakan bahwa setelah ini, apa yang mereka alami di rumah gubuk alas itu, masih belum ada apa-apanya. Apa yang akan mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, ada kilatan mata dengan sudut bibir melengkung. Mbah Tamin punya rencana lain.

Sugik belum kembali, kabarnya ia akan menjemput sore hari. Sri masih belum tahu dimana Dela sekarang berada. Yang jelas, alas itu bukan tempat dimana Dela disembunyikan lagi. Entah tempat seperti apalagi, Sri merasa ia sedang di persiapakan untuk sesuatu. Sesuatu yang lebih besar.

Apakah hal itu? Lalu dimanakah lagi Dela akan di sembunyikan?* (Bersumber dari Twitter @simplem81378523 / PARISAINI R ZIDANIA)

Baca juga: Kuliner Wajib di Yogyakarta, Harus Coba Tempo Gelato Kaliurang

 

Editor: Widya
    Bagikan  

Berita Terkait