Sewu Dino Bagian 25

Horror —Jumat, 12 Aug 2022 16:28
    Bagikan  
Sewu Dino Bagian 25
Ilustrasi.* (FOTO: Pinterest)

DEPOST,- Ia tidak lagi sekamar dengan Dini, hanya ada jendela yang ditutup gorden, di sana, Mbah Tamin mengatakannya, “Nek was jam 12, lawang kamarmu ojok lali di tutup, ojok sampe mok bukak yo, pesenku iku tok (Kalau sudah jam 12, pintu kamarmu jangan dibuka, jangan sampai kamu membukanya, ingat pesanku ini, tegas Mbah Tamin lalu berlalu).”

Sri membuka gordin jendelanya. Ia merasakan bahwa keberadaannya di sini tidak ada bedanya dengan keberadaannya di alas itu. Entah kenapa, tempat ini sama saja. Seperti memintanya menguak apa yang ada disini.

Hingga akhirnya ia melihat Dela baru saja melewati kamarnya, menatapnya lalu menghilang dengan senyuman yang memancing keingintahuan.

Sri sudah mengunci pintu kamar dan jendelanya. Kini, ia berbaring di atas kasur tua yang setiap ia bergerak mengeluarkan suara tidak mengenakan. Hanya dengan menatap cahaya lilin di meja, ia merasa aman. Selebihnya, ia terjaga dan tidak bisa tidur dengan banyak sekali pertanyaaan di pikirannya.

Waktu terasa begitu lambat. Setiap ketukan detik yang Sri bayangkan terasa mengambang dalam sepi di kamar itu. Lalu, terdengar suara lirih. Suara yang membuat Sri merasa tidak sendirian lagi. Suara itu, terdengar dari luar kamar.

“Mbak Sriiii.. ini aku Dela," mendengar itu, Sri langsung tercekat. Entah apa suara itu, seakan sebuah ancaman bagi Sri.

“Mbak samoun tilen, niki aku Dela mbak, di bukak lawange mbak (Mbaknya sudah tidur ini aku Dela, mbak, dibuka dulu pintunya mbak)."

Sri masih diam, ia mencoba menahan diri. Suara itu sangat menganggunya. “Mbak Srii, aku loh eroh nek sampean jek melek, di bukak dilek nggih mbak, engkok, tak kek’I panuturan (Mbah Sri, saya tahu kamu masih terjaga, dibuka dulu pintunya. Nanti, saya kasih tau rahasia)."

Kaki Sri mulai melangkah turun. Ia beranjak dari tempatnya. Namun, ia masih ragu. Sri belum menjawab, ia masih diam dan membiarkan suara itu ditelan sunyi, diobrak-abrik sepi sampai keheningan menguasai.

Senyap. Suasana saat itu sangat senyap. Namun, perasaan itu seakan menekan Sri dalam kegilaan dan rasa penasaran yang saling melahap satu sama lain, Sri gila.

Benar saja, keheningan itu membuat sebagian pikiran Sri tertekan. Hingga, Sri merasa bahwa Dela telah pergi. Sri mencoba untuk menenangkan diri. Ia terduduk dengan kaki yang sudah lemas.

Namun, tiba-tiba…. “BRAAAKKKKK!!!” pintu kamar Sri dihantam oleh sesuatu yang sangat keras.  

Apa yang terjadi dengan Sri selanjutnya?* (Bersumber dari Twitter @simplem81378523 / PARISAINI R ZIDANIA)

 

Editor: Zizi
    Bagikan  

Berita Terkait