Sewu Dino Bagian 27

Horror —Senin, 15 Aug 2022 11:46
    Bagikan  
Sewu Dino Bagian 27
Ilustrasi VAR.* (FOTO: Pinterest)

DEPOST,- (nanti kamu akan melihat kebun tebu. Di sana, ada orang. Cari dan ikuti dia sampai ia duduk disebuah tempat.)

Mbah Tamin kemudian meminta Dini meminum air degan hijau, memijat-mijat kepalanya sambil mengusap asap kemenyang. Ia lalu menghantam kepala Dini dengan telapak tangan.

“Sri tolong jogo Dini, mbah kate metu (Sri, tolong jaga Dini. Mbah mau keluar dulu)."

Mbah Tamin pergi, sedangkan Dini tersungkut pingsan, di dahinya, ia terus berkeringat. Berkali-kali ia tampat seperti orang meracau, mengatakan sesuatu seperti “petang” atau gekap.

Namun, Sri sangat telaten membersihkan keringat Dini. Ia juga membantu Dini agar bisa tidur dengan posisi yang benar. Ia terus menjaga Dini sepanjang malam. Mbah tidak juga kembali. Semakin malam, Dini semakin kacau. Ia menjerit, seperti sedang berlari sambil nafasnya terengah-engah.

Yang membuat Sri tersentak ketika Dini mengataan “Pak’e ndelok, pak’e ndelok!! Aku dikejar, aku dikejar!! (Bapaknya melihat saya, bapaknya melihat saya, saya dikejar, saya dikejar!!)."

Badan Dini tiba-tiba saja panas sekali. Sri pun mulai khawatir namun ia bingung harus melakukan apa.

Selang beberapa saat, mbah Tamin kembali. Ia hanya menepuk bahu Dini dan Dini langsung bangun. Wajahnya tampak kaget, seperti mengatakan ada sesuatu. Namun, ia urungkan saat melihat mbah Tamin melotot seakan menahan bahwa ia tidak boleh mengatakannya di sini.

Baca juga: Munajat untuk Kemakmuran Jateng dan IR, Ratusan Kiai Al Tsawab Baca Ratib Haddad dan Surat Al Kahfi

Mbah Tamin dan Dini keluar. Sri tidak mengerti kenapa si mbah seakan menghindarinya.  Setelah menunggu, si Mbah memanggil Sri menyuruhnya agar kembali ke kamar. Perjalanan Sri ke kamar melewati sebuah kamar tanpa pintu. Di sana, ada Dela melihatnya dan tersenyum saat melihat Sri.

Hal terakhir yang Sri ingat saat melihat Dela seakan memberi tahu bawa akhir dari semunya adalah rumah ini. Rumah yang akan Sri ingat sampai akhir nanti.

Sri menutup pintu, menguncinya. Ia terlalu lelah malam ini. Apa yang ia lihat ingin ia lupakan dalam tidurnya. Saat Sri memejamkan mata, seseorang membelai rambutnya. Memaksanya untuk melihat siapa yang tengah menganggu tidurnya.

“Dela,” kata Sri saat melihatnya. “Kok isok (bagaimana bisa)."

“Aku ket mau nang jeroh kamarmu lh Sri. Nang nisor bayangmu. Wong tuwek iku, gak goleki aku kan (Aku dari tadi sebenarnya ada di dalam kamarmu loh Sri. Tepatnya di bawah ranjangmu. Apa orang tua itu masih mencari saya)."

“Aku jalok tolong, sak iki, nyowomu nang tangane wong tuwk iku, nenk awakmu nuruti aku, awakmu percoyo ambek aku ndok (Aku minta tolong sekarang. Nyawamu ada di tangan si mbah, kalau kamu menuruti kata-kata saya, kamu akan selamat dan saya kasih tau sumber masalahnya. Kamu percaya sama saya kan)."

Apakah Sri akan percaya?* (Bersumber dari Twitter @simplem81378523 / PARISAINI R ZIDANIA)

Baca juga: Munajat untuk Kemakmuran Jateng dan IR, Ratusan Kiai Al Tsawab Baca Ratib Haddad dan Surat Al Kahfi

 

 

 

Editor: Widya
    Bagikan  

Berita Terkait