Hadir Sejak 1920, Sate Gebug Jadi Legenda Kuliner Malang

Kuliner —Sabtu, 3 Sep 2022 16:13
    Bagikan  
Hadir Sejak 1920, Sate Gebug Jadi Legenda Kuliner Malang
Sate Gebug, Makanan Khas Malang.*(FOTO: Instagram @kakilimamalang)

DEPOST,- Jalan-jalan ke Kota Malang harus mencicipi makanan-makanan khasnya. Satu yang sudah melegenda ada sate di Warung Sate Gebug yang sudah ada sejak 1920 oleh Yahmon dan Karbuwati. Awalnya di tahun 1910 tempat itu merupakan toko es batu zaman Belanda.

Berubah menjadi warung sate di tahun 1920 hingga tahun 1980.  Di tahun itu Yahmon meninggal dunia, sehingga digantikan oleh istrinya.  Kemudian turun lagi kepada anaknya di tahun 1989, Tjipto Sugiono.

Tahun 2017, Tjipto meninggal dunia dan warung akhirnya dikelola olehistri dan anaknya yang bernama Achmad Kabir sebagai generasi ketiga. Jadi warung ini merupakan usaha turun temurun semenjak Indonesia belum merdeka.

Sate Gebug sendiri merupakan sate dari daging sapi, dan hanya memakai bagian has dalam saja. Cara mengolahnya yang menjadi alasan sate ini dinamakan sate gebug. Daging sapi digebuk atau ditumbuk sampai lembut lalu dibalur bumbu kecap manis yang gurih dan dibakar sampai matang. Satenya masih juicy dan terasa semakin gurih karena disajikan bersama bumbu kecap encer melimpah

Baca juga: Telaga Biru Semin, Bekas Galian Tambang Jadi Destinasi Wisata yang Cantik

Makanan ini memiliki tekstur sangat lembut, hingga saat memakannya tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk memisahkan daging dari tusuk satenya. Satu porsi sate gebug biasanya dilengkapi sambal sebagai bumbu tambahan.

Untuk harga satu tusuk satenya sendiri dijual dikisaran harga Rp 25 ribu dengan sate yang berukuran besar penuh dengan daging.  Tetapi jika mengiginkan sate yang lebih spesial tanpa lemak, dijual dengan harga Rp 30 ribu.

Selain ada sate di Warung Sate Gebug, ada varian makanan lainnya seperti soto dan rawon yang memiliki harga Rp 15 ribu.

Selain makanannya yang legendaris, tempat makannya juga tetap mempertahankan gaya jadulnya dan masih ada unsur-unsur Belanda.  Jadi selain makan, juga bisa foto-foto untuk update di sosial media kalian dengan tampilan retro.* (RENALDI)

Baca juga: Kuliner Khas dari Malang, Ada yang Tahu Orem-orem?

 

 

 

 

 

Editor: Widya
    Bagikan  

Berita Terkait