Kesenian Kuda Lumping yang Berasal dari Suku Jawa Memiliki Eksistensi Kuat di Pangandaran

News —Jumat, 15 Oct 2021 14:36
    Bagikan  
Kesenian Kuda Lumping yang Berasal dari Suku Jawa Memiliki Eksistensi Kuat di Pangandaran
Kesenian Kuda Lumping yang Berasal dari Suku Jawa Memiliki Eksistensi Kuat di Pangandaran/Deni

PANGANDARAN, DEPOST.ID

Kesenian kuda lumping yang berkembang di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat merupakan akulturasi budaya suku jawa dan sunda.

Saat ini kesenian kuda lumping yang berasal dari suku jawa memiliki eksistensi kuat di Pangandaran.

Bahkan kesenian kuda lumping tersebut jadi salah satu hiburan masyarakat yang biasa dipentaskan dalam acara hajatan.

Keakraban masyarakat di Panganaran dengan kesenian kuda lumping menandakan kehidupan sosial suku jawa dan sunda di Pangandaran terjalin baik.

Ketua Lembaga Adat Kabupaten Pangandaran Erik Krisnayudha menyampaikan, kesenian kuda lumping yang saat ini berkembang di Pangandaran masuk melalui daerah Cirebon.

"Perkembangan kesenian kuda lumping di Pangandaran mayoritas dinikmati pada daerah perbatasan suku sunda dengan suku jawa," ujarnya kepada DEPOST.ID, Jumat 15 Oktober 2021 pagi.

Menurut Erik, daerah perbatasan suku jawa dengan suku sunda itu di antaranya di Kecamatan Mangunjaya, Kecamatan Kalipucang dan Kecamatan Pangandaran.

Baca juga: Hasil Brazil vs Uruguay World Cup Amerika: Neymar dan Raphinha Tampil Memukau di Kualifikasi Piala Dunia

Baca juga: Drama Korea Reflection Of You Episode 1 Sub Indo, Penghianatan dan Kisah Cinta

"Kalau orang jawa menyebutnya kuda lumping, tapi kalau orang sunda menyebutnya ebeg," terangnya.

Kata Erik, pagelaran kesenian ebeg sangat simpel dipentaskan dalam acara resepsi seperti pesta pernikahan dan khitanan.

"Pertunjukan ebeg lebih simple arenanya dan banyak warga yang minat mementaskan kesenian ebeg dibandingkan dengan kesenian tradisional lain," jelasnya.

Pementasan kesenian ebeg, lanjut dia, di antaranya adegan tarian orang yang menunggangi kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu, dirias layaknya kuda beneran.

"Ebeg tersebut mengkolaborasikan antara bunyi musik gambelan tradisional dengan gerakan drama yang mengandung unsur magis," paparnya.

Erik menyebutkan, suara gambelan bernuansa magis tersebut mempengaruhi para pemain hilang kesadaran seolah dikendalikan roh halus.

"Keunikan kesenian ebeg di antaranya saat para penari dalam kondisi meundeum pemain melakukan adegan yang mengejutkan seperti, memakan kaca, mengupas buah kelapa menggunakan gigi dan menirukan gaya gerakan binatang," pungkasnya. (Deni)

Baca juga: Waduh! Batu Cikabuyutan Pemberi Tanda Bencana di Pangandaran Hilang

Baca juga: Undur-undur Laut Crispy Kuliner Khas Pesisir Kebumen yang Unik dan Renyah


Editor: Riyan
    Bagikan  

Berita Terkait