Arti Ketupat Dalam Filosofi Jawa, Laku Papat Ngaku Lepat

Pendidikan —Rabu, 6 Oct 2021 10:24
    Bagikan  
Arti Ketupat Dalam Filosofi Jawa, Laku Papat Ngaku Lepat
Arti Ketupat Dalam Filosofi Jawa, Laku Papat Ngaku Lepat/ pinterest

DEPOST

Idhul fitri tentu saja tidak lepas dengan makanan khas Indonesia yaitu ketupat, Hal ini telah menjadi khusus bagi seluruh umat Islam di nusantara, khusnya di tanah Jawa.

Secara umum ketupat berasal dan ada dalam banyak budaya di kawasan Asia Tenggara. Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara maritim berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda. Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa.

Ketupat atau kupat sangatlah identik dengan Hari Raya Idul Fitri. ketupat ini ternyata bukan hanya sekedar pelengkap hari raya saja ataukah ada sesuatu makna di dalamnya?

Baca juga: Cerita Mistis Leled Samak, Hantu Air Mitos di Tanah Sunda

Baca juga: Drama Korea High Class Episode 9 Sub Indo, Permintaan Terakhir


Ketupat pertama kali dperkenalkan oleh Kanjeng Sunan pada masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali ba’da, yaitu Ba’da Lebaran dan Ba’da Kupat. Ba’da Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut BA’DA KUPAT tersebut

Dalam masyarakat jawa ketupat dibuat dengan anyaman daun kelapa muda yang diisi beras untuk dimasak menyerupai nasi.

Arti kata ketupat dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat.

Baca juga: Wisata Keluarga Murah dan Menyenangkan di Batu Apung Alam Hijau Wanayasa

Baca juga: Liga Dispora U-11 Kabupaten Sleman 2021 Digelar selama 4(empat) Hari

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.

Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku lepat, tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini.

Laku papat, laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.

Baca juga: Wisata Keluarga Murah dan Menyenangkan di Batu Apung Alam Hijau Wanayasa

Baca juga: Liga Dispora U-11 Kabupaten Sleman 2021 Digelar selama 4(empat) Hari

Empat tindakan tersebut adalah:

  • Luberan
  • lebaran
  • leburan
  • Laburan

Artinya:

Lebaran.

Bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan. Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin. Pengeluaran zakat fitrah menjelang Lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Leburan.

Maknanya adalah habis dan melebur. Maksudnya pada momen Lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan

Berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Baca juga: Wisata Keluarga Murah dan Menyenangkan di Batu Apung Alam Hijau Wanayasa

Baca juga: Liga Dispora U-11 Kabupaten Sleman 2021 Digelar selama 4(empat) Hari

Filosofi ketupat

Sementara itu makanan yang dibungkus daun dengan bentukanyaman cantic ini memiliki makna yang sangat rumit namun memberikan pelajaran unutk kita, hal ini

  1. Mencerminkan beragam kesalahan manusia. Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.
  1. Kesucian hati, setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.
  1. Mencerminkan kesempurnaan. Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak Idul Fitri.
  2. Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa pun ada yang bilang “kupa santen“, kulo lepat nyuwun ngapunten (saya salah mohon maaf).

Baca juga: Wisata Keluarga Murah dan Menyenangkan di Batu Apung Alam Hijau Wanayasa

Baca juga: Liga Dispora U-11 Kabupaten Sleman 2021 Digelar selama 4(empat) Hari

Itulah makna, arti serta filosofi dari ketupat. Betapa besar peran para Wali dalam memperkenalkan agama Islam dengan menumbuhkembangkan tradisi budaya sekitar, seperti tradisi lebaran dan hidangan ketupat yang telah menjadi tradisi dan budaya hingga saat ini.

Asilmilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami ketika ketupat menjadi makanan yang selalu ada di saat umat Islam merayakan lebaran sebagai momen yang tepat untuk saling meminta maaf dan mengakui kesalahan***/rs


Editor: Ajeng
    Bagikan  

Berita Terkait