Sejarah, Tradisi dan Prosesi Ma'Nene di Tana Toraja

Pendidikan —Kamis, 16 Dec 2021 11:19
    Bagikan  
Sejarah, Tradisi dan Prosesi Ma'Nene di Tana Toraja
pinterest

TORAJA, DEPOST.ID- Tana Toraja Sulawesi Selatan memang punya banyak budaya dan tradisi yang sangat unik. Salah satu yang paling dikenal dan menimbulkan banyak kontroversi adalah tradisi mayat berjalan.

Ma’Nene atau tradisi mayat berjalan biasanya digelar dalam sebuah upacara adat. Upacara tersebut biasanya dilakukan dalam rangka mengganti pakaian mayat leluhur dan dilakukan oleh masyarakat Baruppu di pedalaman Tana Toraja.

Upacara Ma’Nene akan dilakukan setiap tiga tahun sekali di Bulan Agustus. Hal itu karena upacara Ma’Nene hanya boleh dilaksanakan setelah musim panen yang biasanya jatuh pada bulan Agustus.

Masyarakat setempat percaya bahwa jika ritual Ma’Nene tidak dilakukan sebelum masa panen, makan sawah dan lading mereka akan mengamali kerusakan engan banyaknya hama yang dating secara tiba-tiba.

Ritual Ma’nene berawal dari seorang pemburu binatang bernama Pong rumasek yang dating ke hutan pegunungan Balla. Saat datang kesana, Pong menemukan sebuah jasad manusia yang sudah meninggal dunia dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Jasad itu dibawa oleh Pong dan dikenakan baju yang layak untuk dikuburkan di tempat seharusnya.

Baca juga: Mengenal Adat Bali Ngaben: Jalan Menuju Nirwana

Sejak saat itu, Pong terus mendapatkan berkah. Tanaman pertanian milik Pong panen lebih cepat dari waktu biasanya. Ketika Pong berburu pun, Pong sering sekali dengan mudah mendapatkan perburuannya.

Karena kejadian tersebut, Pong menanggap bahwa jasad orang yang sudah meninggal tetap harus dirawat dan dihormati sekalipun jasad tersebut sudah tidak berbentuk apapun.

Pong akhirnya mewariskan amanahnya ke penduduk Barupu. Oleh penduduk Baruppu, amanah Pong tetap dijaga dan dilaksanakan dan menyebut ritual tersebut ritual Ma’Nene.

Uniknya, mayat-mayat yang pertama kali di temukan di Gua di Desa Sillanang sama sekali tidak membusuk. Padahal mayat tersebut tidak dibalsem ataupun diberi formalin.

Menurut masyarakat sekitar, dalam gua tersebut terdapat zat yang khasiatnya bisa untuk mengawetkan jasad.

Baca juga: Line-up Junior Talent Team 2022 Diumumkan

Prosesi Ma’Nene diawali dengan mengunjungi lokasi tempat dimakamkannya para leluhur masyarakat setempat yaotu di pekuburan Patane di Lembang Patibm Kecamatan Sariale, Ibu Kota Kabupaten Toraja Utara.

Sebelum jasad dibuka dan diangkat dari peti mati, para Tetua yang biasa dsebut dengan nama Ne’Tomina Lumba akan membacakan doa dalam Bahasa Toraja Kuno. Setelah itu, jasad akan diangkat dan mulai dibersihkan dari atas kepala hingga ujung kaki menggunakan kuas atau kain bersih. Setelah itu, barulah jasad tersebut dipakaikan baju yang baru yang kemudian akan kembali di baringkan di petinya masing-masing.

Selama prosesi tersebut, sebagian lelaki akan membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu juga menari yang melambangan kesedihan. Lagu dan gerak tarian tersebut dipercaya untuk menyemangati para keluarga yang ditinggalkan.

Selanjutnya, Tradisi Ma’Neneerat kaitannya dengan konsep hidup masyarkat Toraja bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi.

Kepercayan itu membuat masyarakat percaya bahwa tidak semestinya orang yang sudah meninggal dunia jasadnya dikuburkan di dalam tanah. Bagi mereka, hal itu justru akan merusak kesucian bumi yang akan berdampak pada kesuburan bumi. –zz-  

Baca juga: Guardiola Memecahkan Rekor Gol Liga Premier saat Manchester City Mengalahkan Leeds Tujuh Kali

Editor: Zizi
    Bagikan  

Berita Terkait