Situ Cangkuang Garut, Dengan Simbol Peninggalan Situs adat dan Budaya Sunda

Wisata —Sabtu, 16 Oct 2021 11:34
    Bagikan  
Situ Cangkuang Garut, Dengan  Simbol Peninggalan Situs adat dan Budaya Sunda
Situ Cangkuang Garut, Dengan Simbol Peninggalan Situs adat dan Budaya Sunda/ pinterest

GARUT, DEPOST

Kota penghasil dodol Garut memiliki sebuah kompleks wisata candi cangkuang terletak ditengah situ (danau kecil) Cangkuang. Selain itu terdapat juga kampung adat tradisional yaitu kampung Pulo.
Candi ini diperkirakan di bangun pada abad 8 M dan merupakan peninggalan budaya hindu di jawa barat.

Candi peninggalan masa Hindu ini terletak di kecamatan Leles dan mudah untuk di akses dari ibu kota jawa barat , Bandung.

Untuk mencapai candi ini, anda dapat menggunakan jasa penyeberangan rakit yang dapat menampung cukup banyak penumpang.

Baca juga: Kampung Naga Tasikmalaya,Unik dengan Tradisi Budaya yang Terjaga

Baca juga: PWI Kota Bandung, Gelar Raker dan Press Gathering 2021 di Pangandaran


Selain menikmati keindahan alam sekitar yang cukup asri, anda juga bisa berkunjung ke kampung adat pulo yang terletak persis di pinggir candi cangkuang.

Anda juga dapat menemukan catatan sejarah pemugaran candi cangkuang dan benda-benda peninggalan zaman hindu dan islam di museum cangkuang

Ada hal yang menarik, meskipun berasal dari masa Hindu, namun disekitar candi banyak terdapat peninggalan masa islam awal di jawa barat.
Selain itu juga terdapat makam eyang embah dalem Arif Muhammad yang terletak persis di pinggir candi .

Baca juga: Resep Frozen Banana Pop

Baca juga: Kapolsek Pacet Bersama Kanit Binmas Tinjau Vaksinasi Dalam Rangka Persiapan Pilkades Serentak Desa Cikitu Kabupaten Bandung

Eyang embah dalem Arif Muhammad adalah salah satu penyebar agama silam di jawa barat. Penduduk sekitar situ cangkuang menganggap mereka adalah keturunan langsung dari eyang embah dalem Arif Muhammad.

Selain itu ada juga hal unik lain nya mengenai kampung Pulo, dimana sampai saat ini bangunan di kampung adat tersebut hanya berjumlah tujuh dan tidak boleh menambah bangunan lagi serta kepala keluarga. Apabila ada warga kampung adat yang menikah, mereka harus ke luar kampung bersama keluarga barunya.

Jika anak dari warga kampung adat menikah, setelah dua minggu mereka juga harus keluar.

Namun, ketika ayah atau ibunya yang menempati rumah di kampung adat meninggal, mereka dapat masuk kembali mengisi rumah tersebut.

Baca juga: Resep Frozen Banana Pop

Baca juga: Kapolsek Pacet Bersama Kanit Binmas Tinjau Vaksinasi Dalam Rangka Persiapan Pilkades Serentak Desa Cikitu Kabupaten Bandung

Hak waris almarhum Eyang Embah Dalem Arif Muhammad saat masih hidup ini diberikan pada anak perempuannya karena dia yang melanjutkan keturunan dari Embah.
Anak laki-laki satu-satunya Embah meninggal saat akan melakukan sunat dan diberi simbol bangunan.

Kisahnya, anak laki-laki Embah yang akan melakukan sunat itu mengadakan pesta besar dengan arak-arak sisingaan dan musik gamelan yang menggunakan gong besar.

Namun, tiba-tiba ada angin badai yang menimpa anak tersebut hingga terjatuh dari tandu dan menyebabkan anak laki-laki itu meninggal dunia.

Dari kejadian tersebut, Embah menjadikannya pembelajaran dengan membuat tradisi serta aturan yang ada di kampung.

Adapun beberapa aturan lainnya seperti tidak boleh menabuh gong besar, tidak memperkenankan beternak binatang besar berkaki empat dan berziarah pada hari rabu dan malam rabu.NN

Baca juga: Resep Frozen Banana Pop

Baca juga: Kapolsek Pacet Bersama Kanit Binmas Tinjau Vaksinasi Dalam Rangka Persiapan Pilkades Serentak Desa Cikitu Kabupaten Bandung


Editor: Ajeng
    Bagikan  

Berita Terkait